Kamis, 28 Juli 2022

Ini 175 Sifat Orang Gayo, Terungkap dalam Bincang Budaya Pusat Kajian Kebudayaan Gayo

Laporan Fikar W Eda I Jakarta SERAMBINEWS.COM,JAKARTA - Pusat Kajian Kebudayaan Gayo bekerja sama dengan Mahara Publishing menggelar Bincang Budaya, membahas tentang 175 sifat orang Gayo. Bincang Budaya diselenggarakan secara virtual, Senin (28/3/2022) menghadirkan pembicara Kamaruddin, penulis buku "Jirim Jisim: Aneka Sifat Manusia dalam Perspektif Gayo.' "Bincang Budaya ini merupakan kegiatan perdana tahun ini. Pusat Kajian Kebudayaan Gayo berdiri tahun 2004 dan dinotariskan tahun 2006. 2006-2021 dikelola alm. Pak Isma Tantawi. Ada dua pengurus yang sudah berpulang ke rahmatullah: Prof. H. Muhammad Daud, S.H. dan Drs. Isma Tantawi, M.A. Karenanya, pusat kajian ini coba direstrukrisasi," kata pendiri sekaligus Ketua Pusat Kajian Kebudayaan Gayo, Yusradi Usman al-Gayoni, saat mengantarkan Bincang Budaya tersebut. Acara tersebut diikuti berbagai kalangan, birokrat,seniman dan pemerhati budaya. Dalam paparannya, Kamarudin, menjelaskan, jirim adalah segala hal yang berkaitan dengan tingkah laku, tindak tanduk atau gerak gerik. Sementara, jisim berarti mimik atau ekspresi wajah yang menggambarkan perasaan hati seseorang atau bentuk komunikasi nonverbal. "Dalam istilah Gayo disebut sirem. Misalnya, gere jeroh sirem me atau metuh sirem me. Jirim jisim juga dikenal dengan istilah begi, perange, fiil, perasat, unang, dan pel-oh," sebut penyusun TTS Gayo tersebut. Apa saja 175 sifat yang melekat dalam diri orang Gayo tersebut, inilah rinciannya. 1. Mu Tape Ikot /Mu Pemeliten (pandai menyimpan rahasia) 2. Gemasih (pemurah) 3. Setie (loyal) 4. Betul Letep (tidak pandai berneko beko) 5. Kemangan (pemalu) 6. Lomes (bermulus manis) 7. Peturut (memperhitungkan kebaikan) 8. Bung (tega) 9. Jengkat (sombong) 10. Ko-eh (punya niat buruk) 11. Napek (tidak mampu memegang amanah) 12. Tema-ah/Tamak/jekopen (rakus) 13. Loba ( rakus namun tidak di dukung oleh kemampuan cukup) 14. Rie (ria) 15. Rampus (anggap sepele) 16. Jis (tidak menghargai) 17. Petukel (labu) bermakna membanggakan diri 18. Gah Gernang (Deret Pedet Was Mu Luang) (ucapan dan kenyataan berbeda) 19. Tipak dagu (tidak menghargai karya/kebaikan orang lain) 20. Jurah Siku (memberi untuk mengaharapkan imbalan) 21. Angukni Itik Boh Lemu (tindakan untuk menyenangkan sesaat) 22. Gegeben (ceroboh) 23. Tengkap Asap (mengambil keputusan sepihak) 24. Lidem (lebay/mencari perhatian orang lain) 25. Pekacang (bersandiwara untuk berbohong) 26. Pepumun (suka mengambil harta orang lain) 27. Gedok Ni Senuk (mampu mensiasati masalah) 28. Porak Taingkurik (sesaat) 29. Bening Lokot (turah jontok baro mugemot) (tidak memiliki inisiatif) 30. Jolok Bengkon (memperkeruh suasana) ) 31. Merke (pemalas) 32. Pegeson (pengecut) 33. Pesalah (suka merajut namun dalam waktu yg tidak lama) 34. Jomeng (merajuk hingga sampai seumur hidup) 35. Ukang/Dangkalan (suka membantah tidak mendengarkan nasihat) 36. Bebetulen (kaku/tidak pandai bercanda) 37. Duyus (akalni jema gere siet akal dirie gere temus) (tidak memiliki inisiatif dan menerima saran orang lain) 38. Belahni uluh (tatang si atas lengat si tuyuh) (penjilat dan mengorbankan orang lain untuk kepentinganya) 39. Semayang (penyayang) 40. Tekabur (takabur) 41. Kekocahan (suka pamer) 42. Retak Tiris (menyia nyiakn harta) 43. Ukur Banga (si patut kin nise nge kin jema) (sial dan lamban) 44. Tungang (tidak memperhitungkan resiko) 45. Sintak sedengak (berbicara keras dan kasar) 46. Bojor (blak-blakan) 47. Cecor (pandai/lihai berbicara) 48. Bingit (kejam) 49. Bicer (agresif) 50. Ojom/Coco (suka bertindak mendahului) 51. Anakni Ruk (tidak memiliki pendirian) 52. Cemburu Ngang (pecemburu) 53. Unung Unung (kusi kesip kone manung) (ikut ikutan) 54. Ilet (curang) 55. Timun Gedok (ke timang betul nguken mupolok) (mempertahankan sikap walaupun salah) 56. Umping/Semping (sensitif) 57. Bebutuhen/Jejotongen (arogan) 58. Pebengis (pemarah) 59. Mamuk Ilang Put (suka mengorek-ngorek permasalah diantara dua orang yang sedang bersengketa) 60. Kucing Mah Uwak/Pejalu (mengadu domba) 61. Nesu Neges (genap gere genap pues gere pues) (serakah) 62. Terjah (kasar) 64. Tangak (bersikap tinggi) 65. Tonga (selalu mencari masalah) 66. Keliling (di tinjau dari segala aspek perbuatanya lebih ke arah yang tidak membawa manfaat) 67. Juge (kumpulan dari sifat terjah, empah, tangak, tongah, tonga dan keliling) 68. Jih (dapat di atur oleh orang lain) 69. Lengek Jampuk (berjiwa seni) 70. Cerel (mentel) 71. Setie (setia) 72. Mersik ( berpendirian kokoh) 73. Bidik ( cepat dan cekatan) 74. Lisik (rajin/militan) 75. Suket Kuah Nile Usi ( ) 76. Teger Isang (tidak bisa dinasihati) 77. Teger Porol (berani, pantang menyerah) 78. Perancut (hampir semua sifat buruk terdapat dalam dirinya) 79. Kurik Pedatas (Ngeke Jemur Nicingi Alas) (berbuat onar dan suka menodai kampung sendiri) 80. Cekeng (tidak membiarkan orang lain melakukan kesalahan) 81. Okeng (pemarah dan suka tindak kasar) 82. Tue Lengkues (makin tue makin beges) (makin tua makin jadi) 83. Tue ni Rom (makin tua makin sadar diri) 84. Pekerana (mengolok olok kelemahan dan kekurangan orang lain) 85. Bebel (masa bodo, cuek) 86. Menye (manja) 87. Parang Munuk (len berarap len bekuduk) (bermuka dua) 88. Kapok Berok (mencampuri urusan orang lain) 89. Mano kemang ujung (membesar besarkan masalah) 90. Sintak Repek (mudah berbicara kasar) 91. Keramil Dodoh (berusaha di perantauan membangun di negeri sendiri) 92. Keloang Gerbang (dikala berusaha rukun dan kompak namun setelah berhasil bercerai berai) 93. Anak ni Re (hubungan antara anak dengan anak yang lain dalam satu keluarga sangat kompak) 94. Anakni Legen (anak yang selalu membuat sulit orang tuanya) 95. Anakni Terbil (seorang anak yang selalu menyakiti orang lain bila lepas dari pantauan ayah/ibunya 96. Anakni Kite (anak yang dapat dijadikan sandaran dihari tua, namun setelah orang tuanya meningal hubungan mereka jadi retak dan bercerai berai) 97. Titok Legen (sa demu kin lewen) (selalu mendapat musuh) 98. Sompong Segapa (menggagalkan usaha orng lain) 99. Angun Para (tidak mengejar waktu) 100. Lemang (suka berbicara nakal) 101. Dedawan Lipet (len beroas len bederet) (licik) 102. Rerang mu garui tetuke (ber prasangka buruk) 103. Lenge Tuang Buluh (tidak dapat di tebak) 104. Ngengilen (ngeyel) 105. Asam Kuncir (lemak iawah lungi ibibir) (bermulut manis) 106. Nitung Koro Ari Atan Koro( melihat kesalahan orang lain lupa akan kesalahan sendiri) 107. Kemel Kemoh(malu-malu tapi mau) 108. Si Tunging Buyung (mengumbar rahasia sendiri) 109. Jejok Ines (ulu tungkuk mata cules) (berbicara tidak menatap mata lawan bicara) 110. Sompong Ungak ( suka memotong pembicaraan) 111. Kaming Ujung Mungkur (bio ngeltis tegu nyentur) (jika dijadikan atasan menyakiti bawahan, jika dijadikan bawahan berupaya menjatuhkan atasan) 112. Kude Langsat (patah ejer gere mengen manat) (melanggar amanah) 113. Tuen Petimah (berjiwa lembut dan penyabar) 114. Tejem Kemili (tejem ku jema tumpul ku diri) (tidak ber prilaku adil) 115. Tejem Lopah (memangan ku tuyuh tejem semelah, nuruhen cerdik ku si gere pane, nuruhen Teger ku si lemah) (kuat dan berani jika berhadapan dengan orang yang lemah) 116. Lengkung Paruk (menyelipkan kepentingen individu maupu kelompok dalam kepentingan umum) 117. Gedok ni Besi (seseorang yang terjebak dalam perbuatan salah namun dapat di kembalikan ke jalan yang benar setelah di nasihati) 118. Bengkuang gewat (menyampaikan kehendak tidak secara langsung atau blak blakan akan tetapi secara halus dan penuh kesopanan) 119. Lulus Jarum Lepas Keri (memiliki strategi) 120. Kucing Meor/Si Mirah Mata ( lelaki yang suka selingkuh) 121. Tasak Matah (suka melakukan perbuatan baik juga suka melakukan perbutan buruk) 122. Tukang Serit (memperumit masalah) 123. Pancing/pejile (cepat jijik dengan hal sedikit kotor) 124. Pecogah(pembohong) 125. Lelih (lebay) 126. Tulok Wan Upuh Kerung (membuat fitnah tersebunyi) 127. Osop Nengel buh Ceras (menghilangkan budi baik orang lain) 128. Sene Bubak (bercanda/guyonan tidak terukur dan teratur) 129. Sene Bube (bercanda/guyonan secara terukur dan teratur) 130. Gere Puter Tanuk Puter kemiring(nekat, kata pepatah: tak ada rotan akarpun jadi 131. Soro Gadung (bertindak tanpa perencanaan yang matang) 132. Edang Sile Leming Silu(jika berurusan dengan hasil bersemangat, sewaktu berjung menghindar) 133. Tempuh Opop (setiap bekerja harus di bantu oleh orang lain) 134. Mutihni Salak (pencitraan) 135. Pacah (lasak) 136. Nangka ipenenangka (melangkahi ucapan sendiri) 137. Jago Lipet (piawai membolak balikkan fakta) 138. Nyurung ku Lah (menjerumuskan orang lain) 139. Si Rantol Awis (gemar berpindah-pindah tempat tinggal) 140. Salah One (merajuk tanpa diketaui sebab yang pasti) 141. Pat Dedol (tindakanya selalu atas perintah orang lain) 142. Lemek Lemek Bau (pura pura baik) 143. Loh (orang gayo yang bekerja sama dengan penjajah dan menindas negeri/bangsanya sendiri) 144. Tulok Jeram Doa Seliut (membelokkan pembicaraan orang lain untuk tujuan tertentu) 145. Lekat Kukut Lekat Sawit (seseorang yang ingin memiliki sesuatu dengan memberi syarat tertentu) 146. Ara Tikik Nome Ruhul (menyia-nyiakan waktu) 147. Ringen Tulen (gampang diperintahkan) 148. Berat Tulen/Beret Tunun (susah diperintahkan) 149. Petiro (suka meminta-minta) 150. Cang belalang (mate gasing jelas utang) (hanya sebatas kepentingan diri) 151. Blanca (tidak bisa di atur "sifat ini untuk anak laki laki yang masih berusia remaja) 152. Napsi-Napsi (individualisme) 153. Mice (tidak ber prilaku bersih) 154. Nipe Roa Ulu (ber kepribadian ganda) 155. Ngawah (berbicara hasil dikala masih berjuang) 156. Anak ni Gerantung (anak yang masih memiliki ketergantungan dengan orang tuanya padahal telah menikah) 157. Anak Nangka (anak yang tidak kompak dalam satu keluarga) 158. Koro Beruksah (Iyo Gere Belup Soboh Gere Beluah) (ber prilaku liar dalam kehidupan sehari-hari) 160. Cecah Kelaping (bualan kosong/banyak bicara) 161. Mecahni Time (suka menjadi pemimicu masalah) 162. Rengang Orot (bertindak ragu ragu) 163. Cempanir (memamerkan usaha atau milik orang lain) 164. Si Runtuh Agih (tukang rusak/perusak) 165. Serbe Gorak (bekerja asal jadi) 166. Renggali Ijo (wanita perebut suami orang lain) 167. Girang Tali (jago kandang) 168. Girang pelulut (jarak girang nge dekat lemut) (berani : hanya di belakang lawan) 169. Mu Kekanakan (kekanak kanakan) 170. Cerdik (mampu merubah tantangan menjadi peluang) 171. Beberen (gampang nangis) 172. Adil (menempatkan segala sesuatu sesuai kebutuhan) 173. Kasih (memiliki kedekatan emosional dengan orang lain) 174. Benar (berbicara dan bertindak selalu sesuai peraturan) 175. Suci (tulus, jiewanya tidak terkontaminasi oleh hal hal buruk).(*) Sumber: https://aceh.tribunnews.com/2022/03/31/ini-175-sifat-orang-gayo-yang-mengekspresikan-perasaan-hati-terungkap-dalam-bincang-budaya

Yusradi Usman al-Gayoni Ditunjuk jadi Koordinator One Week One Juz Musara Gayo Jabodetabek

JAKARTA, SUARAGAYO.Com – Warga One Week One Juz (OWOJ) Musara Gayo Jabodetabek menunjukYusradi Usman al-Gayoni sebagai koordinator, pasca meninggalnya Junsen Mencerlo, sebagai koordinator OWOJ sebelumnya. “Koordinator OWOJ, Junsen Mencerlo, berpulang ke rahmatullah beberapa waktu yang lalu (18/9). Makanya, ditunjuk pemimpin OWOJ yang baru,” kata Almujaini Abdul Karim, Wakil Ketua III Musara Gayo Jabodetabek sekaligus Pembina OWOJ, Jakarta, Senin (27/9/2021). Sampai dua hari yang lalu, jelasnya, Sekretaris OWOJ Yusradi Usman al-Gayoni merangkap sebagai pelaksana koordinator OWOJ. “Karena dianggap perlu mengisi kekosongan koordinator, setelah dibahas, anggota OWOJ sepakat memilih Yusradi untuk memimpin OWOJ sampai berakhirnya periode kepengurusan Musara Gayo Jabodetabek, Desember 2022,” jelas Almujaini. Secara terpisah, Yusradi Usman al-Gayoni, mengungkapkan, ia sudah menyusun kepengurusan sebagai tindaklanjut pergantian koordinator tersebut. “Insya allah diumumkan hari ini, supaya cepat di-SK-kan dan bisa segera rapat kerja. Banyak yang disesuaikan melihat perjalanan dua tahun, persoalan, kebutuhan, dinamika, tantangan, dan perkembangan OWOJ,” ujar Yusradi. Dijelaskan Yusradi, sebelumnya pengelola inti OWOJ hanya koordinator dengan sekretaris dan dibantu ketua kelompok. Sekarang, organisasinya akan lebih besar, mengingat bertambahnya yang ikut OWOJ. Ditambahkan Yusradi, sejauh ini, OWOJ juga tidak memiliki keuangan (uang kas). “Saat ini, coba diupayakan. Ini penting, untuk operasional dan pengembangan OWOJ. Termasuk, membantu anggota OWOJ yang sakit dan memberikan santunan kepada anggota OWOJ yang meninggal dunia. Dalam dua tahun ini, sudah tiga anggota OWOJ yang meninggal dunia,” sebut Yusradi. Sekretaris Umum Musara Gayo Jabodetabek itu berharap, supaya OWOJ semakin berkembang dan maju. Bahkan, diharapkan bisa go national dan go global. Dengan demikian, Musara Gayo Jabodetabek dan orang Gayo ikut memasyarakatkan dan membudayakan membaca Alquran di tengah-tengah masyarakat Indonesia. “Kita mulai dari masyarakat Gayo terlebih dahulu, baik yang ada di Aceh maupun di berbagai daerah di Indonesia, dan ini sudah berjalan dalam dua tahun ini. Kita berupaya agar orang Gayo yang ada di luar negeri juga bisa ikut OWOJ, sebelum meluas ke nongayo,” sebut Yusradi. OWOJ merupakan salah satu kegiatan Musara Gayo Jabodetabek periode 2019-2022. Masing-masing kelompok terdiri dari 30 peserta. Setiap peserta membaca 1 juz berbeda setiap minggunya sampai khatam 30 juz selama 30 minggu. Sekarang, OWOJ Musara Gayo Jabodetabek sudah diikuti 540 peserta se-Indonesia. Sumber: https://suaragayo.com/yusradi-usman-al-gayoni-ditunjuk-jadi-koordinator-one-week-one-juz-musara-gayo-jabodetabek/

Selasa, 26 Juli 2022

Pusat Kajian Kebudayaan Gayo dan Mahara Publishing Gelar Bincang Budaya, Bahas 175 Sifat Orang Gayo

halaman7.com – Takengon: Pusat Kajian Kebudayaan Gayo dan Mahara Publishing menggelar Bincang Budaya pada Senin, 28 Maret 2022, malam. Ini kegiatan perdana dilakukan tahun ini. Sedangkan Pusat Kajian Kebudayaan Gayo sendiri sudah berdiri sejak 2004 dan baru dinotariskan pada 2006. Selama lima tahun pertam, 2006-2021 Pusat Kajian Kebudayaan Gayo ini dikelola alm Isma Tantawi. “Ada dua pengurus yang sudah berpulang ke rahmatullah. yakni Prof H Muhammad Daud SH. dan Drs Isma Tantawi MA. Karenanya, pusat kajian ini coba direstrukrisasi,” kata pendiri sekaligus Ketua Pusat Kajian Kebudayaan Gayo, Yusradi Usman al-Gayoni, dalam Bincang Budaya secara daring melalui zoom meeting tersebut. Yusradi menilai, apa yang dilakukan Kamarudin, Bantacut Aspala, dan Karmiadi, mengumpulkan sifat-sifat orang Gayo, menarik dan penting diketahui masyarakat luas. Lebih-lebih, dalam era digital, industri 4.0 dan artificial intelligence seperti sekarang Ini. “Ini luar biasa. Lebih lengkap dari penelitian alm Prof Melalatoa, pada 1989-an. Harapannya, peneliti dan penulis lainnya, bisa mendalaminya melalui keilmuan berbeda, dengan perspektif yang lebih luas,” harap Yusradi. Dalam paparannya, Kamarudin, penulis buku “Jirim Jisim: Aneka Sifat Manusia dalam Perspektif Gayo,” menjelaskan, jirim adalah segala hal yang berkaitan dengan tingkah laku, tindak tanduk atau gerak gerik. Sementara, jisim berarti mimik atau ekspresi wajah yang menggambarkan perasaan hati seseorang atau bentuk komunikasi nonverbal. “Dalam istilah Gayo disebut sirem. Misalnya, gere jeroh sirem me atau metuh sirem me. Jirim jisim juga dikenal dengan istilah begi, perange, fiil, perasat, unang, dan pel-oh,” sebut penyusun TTS Gayo tersebut. Dilanjutkan Kamarudin, yang terpenting, ke-175 sifat orang Gayo baik positif maupun negatif, terbukukan agar tidak hilang. Di samping itu, penting dijadikan pengetahuan bersama dan sebagai bahan evaluasi diri. Hal ini dilakukan sesuai amanah para leluhur, si osop iperahi, si ara ipejamuri. Sifat Positif Baca Juga Tutur Gayo Kurang Dikenal? Beberapa sifat positif, sebutnya, di antaranya, cerdik, yakni seseorang yang mampu mengubah tantangan menjadi peluang. Sesuai dengan falsafah Gayo “akal kin pangkal, kekire kin belenye”. Lalu, lisik, yakni giat, militan, dan tak kenal lelah. Sesuai pribahasa “lisik kati ara, hemat kati kaya”. Termasuk, bidik yang berarti cepat, cekatan. Hal ini sesuai dengan peribahasa “si pantas tir uloi, si lemem tir irai, enti sempat ketol rok mujadi nege, kalang pepot mujadi rara”. Terakhir, mersik, yakni memiliki jiwa/pendirian yang kokoh yang tak tergoyahkan. Misalnya, seorang pemimpin yang mampu menegakkan kebenaran, walaupun harus berisiko sakit atau pahit bagi dirinya. Sifat Negatif Sebaliknya, beberapa contoh sifat negatif, sebutnya, si tunging buyung, yakni mengumbar rahasia pribadi dan orang lain. Si rantol awis, yakni orang yang gemar berpindah-pindah tempat tinggal; dan retak tiris, yakni orang menyia-nyiakan harta. “Ke depan, mudah-mudahan bisa disempurnakan oleh peneliti, akademisi, dan penulis lainnya. Lebih beruet, kurang betamah, si tebel tarah, si tipis tamah. Ines si kaya rues, pelu si kaya tungku,” ujarnya. Diungkapkan Kamarudin lebih lanjut, sifat-sifat itu, dikumpulkannya dari orang-orang tua dan bahkan dari masyarakat biasa yang biasa berinteraksi sehari-hari, baik di Gayo Lut maupun Gayo Deret. “Selanjutnya, menggali maknanya kepada orang-orang tua yang menurut kami paham tentang hal ini,” tuturnya. Kegiatan bincang budaya tersebut diikuti 25 peserta yang terdiri dari penulis, akademisi, peneliti, pamong budaya, wartawan, tokoh masyarakat, dan Balai Pelestarian Nilai Budaya (BNPB) Aceh-Sumut Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemendikbudristek-Dikti).[ril | red 01] Sumber: https://halaman7.com/2022/03/bincang-budaya-mengenal-sifat-positif-dan-negatif-suku-gayo/ tanggal 29 Maret 2022

Berasal dari Kalangan Muda yang Berintegritas, Berkapasitas, dan Berkompetensi, Diyakini Bisa Bawa Ikatan Musara Gayo Jabodetabek Lebih Maju

Pengurus Ikatan Musara Gayo Jabodetabek periode 2019-2022 resmi sudah terbentuk, tinggal saatnya memasuki masa pelantikan, dengan ketua umum Ahyar Gayo, SH. MH dan sekretaris Umum Yusradi Usman Al-Gayoni, S. S., M. Hum Salah seorang Penasehat Ikatan Musara Gayo Jabodetabek, Alwien Desry SH,. MH., yang membidangi Hukum dan advokasi menyatakan. Beliau merasa bangga dengan komposisi kepengurusan priode ini. Kepengurusan sekarang oleh karena dipercaya oleh mayoritas masyarakat Gayo Jabodetabek, maka legitimasinyapun cukup tinggi untuk menjalankan roda organisasi secara baik dan progresif. Menurut Alwien Desry, bukan hanya karena kepengurusan Ikatan Musara Gayo adalah hasil Mubes yang dilaksanakan pada 8 Desember 2019 yg lalu, tetapi juga dari komposisi pengurus dengan lintas generasi dan kompetensi, diyakini akan dapat bersinergi positif dalam melaksanakan dan mengeksekusi program kerja. Saya Merasa bangga dengan pengurus periode ini karena duet Ketua Ahyar Gayo dengan Sekretaris, sama sama berasal dari kalangan muda yg memiliki integritas, kapasitas dan kompetensi Kata Alwien, Sehingga yakin duet mereka akan membawa Ikatan Musara Gayo kepada keadaan yang lebih maju lagi. Demikian juga personel yang membidangi berbagai divisi dalam kepengurusan sangat proporsional sesuai dengan pengalaman dan skill yg dimiliki oleh mereka. Melalui sambungan telepon dalam perjalanan dari Ponorogo Alwin Desry menambahkan “Amanah yang diterima pengurus ini bukan hanya satu kebanggaan, sekaligus merupakan suatu tangung jawab yang sangat besar, karena baik dan buruknya organisasi ini ke depan ada di tangan pengurus dan teman-teman pengurus lainnya. Di akhir perbincangan ini Alwin mengajak kepada seluruh masyarakat Gayo, mari bersama sama membangun Ikatan Musara Gayo Jabodetabek dan menjadikan organisasi ini menjadi milik bersama dan memberikan kemanfaatan bagi semuanya. Sumber: https://www.musaragayo.com/2020/01/alwien-desry-optimis-kepengurusan.html

Selasa, 24 Juni 2014

An Introduction to Ecolinguistics

For further information, see https://www.facebook.com/groups/244442078996636/. email: maharapublishing@yahoo.co.id; cc: algayonie@yahoo.com

Tutur Gayo (Edisi II)

https://www.facebook.com/groups/244442078996636/. email: maharapublishing@yahoo.co.id; cc: algayonie@yahoo.com

Tujuh Tahun IMTA Sumut (2001-2008)

https://www.facebook.com/groups/244442078996636/. email: maharapublishing@yahoo.co.id; cc: algayonie@yahoo.com

A.R.Moese: Perjalanan Sang Maestro (Biografi)

"A.R.Moese: Perjalanan Sang Maestro (Biografi)" Penulis : Yusradi Usman al-Gayoni Editor : Rina Wahyuni, S.Pd., M.Hum Tata Letak/Cover : Tatema Marunduri Foto Cover : Win Ruhdi Bathin ISBN : 978-602-18086-1-0 Ukuran : x + 172 hlm; 14.5 x 21 cm Harga : Rp 50.000 + ongkir dari Tangerang Penerbit : Pang Linge berkerjasama dengan Research Center for Gayo
Deskripsi A.R.Moese yang bernama asli Abu Moese Azhari lahir dari pasangan Tengku H. Sabdin dan Hj. Sri Banun, 29 April 1939 di Kampung Baru, Takengon Timur, Kabupaten Aceh Tengah. Darah seninya mengalir dari sang ayah, Sabdin, seorang penari sepuh Saman di Gayo Lues pada masa itu dan seorang penyair (saer). Kemudian, dari sang kakek (pihak ibu--bahasa Gayo=awan alik), Huria Panggaben, yang juga seorang mualaf. Sejak kecil, Moese telah menunjukkan bakatnya dengan berlatih musik dengan sang kakek, Huria Panggaben. Kemudian, bergabung dengan Orkes Sadar dibawah pimpinan Ismail Mai. Dalam perjalanannnya, Moese yang sempat bersekolah di Akademi Musik Indonesia di Yogyakarta itu sempat pula bergabung dengan Orkes Tetap Segar dibawah asuhan Jenderal Polisi Hugeng dan Idris Sardi. Saat itu, mereka kerap live di TVRI. Dalam pementasan itu, Moese biasanya memainkan biola. Selain bisa memainkan sejumlah "banyak" alat musik, seniman yang multitalenta ini juga bisa menciptakan lagu (composer), bernyanyi (vokal), mengarranger, monotasi dan menotbalokkan pelbagai lagu. Lebih dari itu, beliau juga pernah menciptakan tari yang dikenal dengan nama Tari Kesume Gayo yang bercerita prihal canda tawa anak muda (beru-bujang) di Gayo. Juga, menciptakan beberapa alat musik. Bersama Syeh Kilang, misalnya, Moese menciptakan 'Gerantung' (alat musik yang terbut dari kalung kerbau). Selanjutnya, dia menciptakan alat musik Perajah atau Perau yang dibuat dari perahu nelayan yang tidak dipakai lagi di Danau Laut Tawar; danau kebanggaan masyarakat Gayo dan Aceh. Terakhir, berhasil menciptakan alat musik 'Jangka;' yang terinspirasi dari Jangka atau alat pemotong tembakau yang dipakai petani tembakau Gayo di tanoh Gayo. Ketiga alat musik ini sempat ikut dalam perlombaan alat musik di tingkat nasional dan meraih juara. Disamping itu, Moese ikut melatih tim panduan suara baik di Takengon, tanoh Gayo maupun di tingkat Propinsi Daerah Istimewa Aceh (sekarang Propinsi Aceh). Tak jarang, dengan sentuhan tangannya, anak asuhnya kerap meraih juara di tingkat nasional. Bahkan, sebelum akhir hayatnya, anak asuhnya--Sanggar Pendopo-Tim Kesenian Anak Gayo--sempat mewakili Indonesia di Scope Je, Macedonia, Eropa Timur dalam rangka peringatan Hari Anak se-Dunia. Salah satu lagu fenomenalnya adalah Tawar Sedenge. lagu ini menjadi semacam "lagu kebangsaan Gayo" dan dinyanyikan setelah Lagu Indonesia Raya. Kemampuan Moese dalam bermusik tak diragukan. Bahkan, Presiden Soekarno pun angkat bicara terkait kemampuannya saat Kongres Pemuda I berlangsung di Bandung, tahun 1959. Ketika itu, Moese sebagai vokal sekaligus memainkan gitar. Akhirnya, Moese dan kawan-kawan (tim kesenian dari Aceh) diundang ke Istana Bogor. Disitulah Sang Proklamator memuji Moese yang bermusik untuk musik, " Siapa yang menyanyi tad? Coba ke sini dulu." Moese kemudian berjalan menghadap bung Karno. Tak berapa lama. Dengan penuh keakraban, mereka saling bersalaman dan menyapa. Sambil menepuk-nepuk punggung Moese, bung Karno kembali berujuar, "Wah, orangnya kecil. Tapi, suaranya besar sekali (tenor). Dan, berkumis lagi." Moese hanya terdiam. Dan, tersipu malu mendengar pujian sang presiden kepadanya (hal 33-34). https://www.facebook.com/groups/244442078996636/. email: maharapublishing@yahoo.co.id; cc: algayonie@yahoo.com

Tutur Gayo (Edisi I)

"Tutur Gayo " Penulis : Yusradi Usman al-Gayoni Editor : Rina Wahyuni, S.Pd., M.Hum Design Cover : Rudi Hartono Layout : Syeh Midin ISBN : 978-602-18086-2-7 Ukuran : iii + 84 hlm; 14.5 x 21 cm Harga : Rp 35.000 + ongkir dari Tangerang Penerbit : Pang Linge berkerjasama dengan Research Center for Gayo
Deskripsi Seperti suku-suku lain di Indonesia, suku Gayo juga memiliki istilah kekerabatan. Dalam masyarakat setempat, dikenal dengan istilah 'tutur,' seperti rekel (generasi paling tua—orang tuanya entah), entah (orang tuanya munyang), munyang (orang tuanya datu), datu (orang tuanya awan dengan anan), awan (kakek), anan (nenek), ama (bapak), ine (ibu), kumpu (cucu), piut (cicit), dan lain-lain. Sayangnya, istilah kekerabatan tadi kurang dikenal, dipelajari, dan dipakai. Bahkan, ada indikasi kepunahan. Apa itu tutur? Bagaimana munculnya tutur secara sosio-kultural? Lalu, klasifikasi, pembagian,fungsi, faktor penyebab kurang dipakainya tutur, dan sampai munculnya istilah (varias) tutur baru; hal itulah yang digambarkan dalam buku ini. Teori dan hasil temuannya bisa juga dipakai sebagai kaji-banding terhadap istilah-istilah kekerabatan dari pelbagai suku yang ada di Nusantara. https://www.facebook.com/groups/244442078996636/. email: maharapublishing@yahoo.co.id; cc: algayonie@yahoo.com

Ekolinguistik

Ekolinguistik Penulis: Yusradi Usman Al-Gayoni Pengantar: Prof. Dr. Aron Meko Mbete (Guru Besar Linguistik Universitas Udayana) Sambutan: Prof. Tengku Silvana Sinar, Ph.D (Ketua Program Studi Linguistik Universitas Sumatera Utara) Editor: Rina Wahyuni Layout: Rahmadaini Usman Design Cover: Tatema Marunduri Foto Cover: Khalisuddin (Gayo Photography Community) ISBN : 978-602-18086-3-4 Ukuran : xi + 65 hlm; 11 x 21 cm Harga : Rp. 25.000+ongkos kirim Penerbit : Pang Linge bekerjasama dengan Research Center for Gayo Buku yang merupakan kumpulan pelbagai tulisan dan publikasi Yusradi al-Gayoni ini mengkaji tentang kedudukan, peran, fungsi, serta pengaruh timbal-balik antara ekologi dan linguistik (ilmu bahasa). Karenanya, kajian ini dinamakan ekolinguistik (ecolinguistics). Dalam rujukan lain, dikenal dengan ekologi linguistik (linguistic ecology), linguistik ekologi (ecological linguistics), dan ekologi bahasa/bahasa ekologi (the ecology of language/language ecology). Pun sudah berusia 40 tahun, Ekolinguistik berbilang baru di Indonesia. Secara formal, baru dipelajari sejak tahun 2007. Khususnya, pada program studi S-2 dan S-3 Linguistik. Selain itu, rujukan-rujukan terkait masih sangat terbatas. Oleh sebab itu, buku ini mencoba memberikan pemahaman awal dan menawarkan topik-topik penelitian prihal kajian ini. Di salah satu bagian tulisan "Mengenal Ekolinguistik" ini, misalnya, menguak adanya hubungan yang nyata terkait pelbagai perubahan ekologi terhadap bahasa. Perubahan-perubahan ekologi tersebut turut memengaruhi nilai, ideologi, dan budaya sebagai bagian dari identitas keetnikan sebuah masyarakat (suku/bangsa). Sebaliknya, bahasa sangat memengaruhi pola pikir, sikap, dan pola tindak manusia. Hal tersebut dapat berimplikasi positif terhadap lingkungan fisik, ekonomis, dan sosial yaitu dengan terpelihara, adanya keseimbangan dan terwarisnya lingkungan yang ada kepada generasi berikutnya. Kebalikannya, dapat pula berdampak negatif dengan terjadinya pelbagai perubahan, ketidakseimbangan, dan kerusakan ekosistem. Dengan demikian, bahasa dapat mengarahkan penggunanya baik untuk hal-hal yang bersifat konstruktif maupun yang bersifat destruktif terkait lingkungan. Kehadiran buku ini diharapkan bisa bermanfaat, khususnya bagi para pemerhati/pengkaji bahasa, linguis (linguist), ekolinguis (ecolinguist), jurnalis, pakar;pemerhati;aktivis lingkungan, akademisi lintas disiplin ilmu: linguistik, ekologi, ilmu komunikasi, biologi, antropologi, sosiologi, arkeologi, etnobotani, dan lain-lain, serta pelbagai elemen sipil lainnya di Indonesia. https://www.facebook.com/groups/244442078996636/. email: maharapublishing@yahoo.co.id; cc: algayonie@yahoo.com

Selasa, 07 Agustus 2012

Ini Dia, Tiga Buku Gayo * Berkisah Tentang Tutur, Tarian dan Biografi

Harian Serambi Indonesia Selasa, 7 Agustus 2012 09:11 WIB JAKARTA - Kekayaan kebudayaan Gayo yang dirangkum dalam tiga buku telah diterbitkan di Jakarta. Ini dia ketiga buku tersebut: “Tutur Gayo, Biografi AR Moes Sang Maestro Gayo,” dan “Tari Saman.” Buku-buku tersebut ditulis Yusradi Usman al-Gayoni, kelahiran Bebesen Aceh Tengah 1983, yang menamatkan pendidikan dari pascasarjana jurusan linguistik Universitas Sumatera Utara (USU) Medan. Sedangkan buku “Tari Saman” ditulis Drs Ridwan Salam, budayawan Gayo Lues yang juga mantan penari Saman. “Tutur Gayo” merupakan buku berisi tentang istilah kekerabatan yang berlaku dalam masyarakat Gayo, seperi “awan” (kakek), “anan” (nenek), “aman, ine” (bapak ibu) dan lain-lain. Tapi menurut Yusradi, tutur tersebut sudah banyak ditinggalkan masyarakat. “Masyarakat lebih memilih istilah bapak, ibu, ayah, mama, kakek, nenek dari pada istilah dalam bahasa Gayo,” katanya. Buku tersebut menguraikan kembali istilah tutur Gayo sebagai sebuah kekayaan kebudayaan. Buku lainnya yang ditulis Yusradi adalah biografi tentang maestro musik Gayo, AR Moese. Buku setebal 172 halaman tersebut mencoba mengungkapkan perjalanan karir musisi Gayo yang menciptakan lagu “Tawar Sedenge” yang telah dijadikan lagu wajib oleh Pemkab Aceh Tengah. Moese selain menciptakan lagu-lagu Gayo, juga menciptakan alat musik terbuat dari kalung kerbau “gerantung,” dari perahu bekas yang diberi nama “perajah” dan “jangka” yaitu instrumen musik yang diciptakan dari alat pengiris tembakau. Sementara buku “Tari Saman” ditulis Drs Ridwan Salam, menguraikan tentang sejarah dan filosofi tari Saman yang beberapa waktu lalu telah disahkan sebagai warisan kebudayaan dunia oleh Unesco. “Tidak benar kalau tari Saman itu diciptakan oleh orang bernama Syekh Saman, sama sekali tidak ada hubungannya,” kata Ridwan Salam tentang adanya sementara pandangan seolah-olah tari tersebut diciptakan Syekh Saman. Ridwan Salam mengatakan, tari Saman adalah tari rakyat masyarakat Gayo Lues. “Tarian itu ada sejak masyarakat Gayo Lues ada,” kata Ridwan yang juga dosen di beberapa perguruan tinggi di Jakarta. Yusradi Usman al-Gayoni yang juga penulis buku “ekolinguistik” mengatakan banyak sisi lain dari kebudayaan Gayo bisa menjadi sumber penulisan. “Masalahnya kita terkendala dengan penerbitan,” katanya. Ia mengharapkan pemerintah Aceh dan Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Lues memberi perhatian untuk penerbitan buku-buku Gayo.(fik) Editor : bakri http://aceh.tribunnews.com/m/index.php/2012/08/07/ini-dia-tiga-buku-gayo (7/8/2012)

Minggu, 05 Agustus 2012

Kepala Pusat Bahasa Apresiasi Kehadiran Buku Ekolinguistik

Jakarta | Lintas Gayo – Kepala Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (Pusat Bahasa) Kementerian Pendidikan Nasional, Prof. Dr. Mahsun, mengapresiasi kehadiran buku Ekolinguistik karya putra Gayo,Yusradi Usman al-Gayoni. Prof. Mahsun mendorong akademisi asal Takengon, Aceh ini agar terus menulis. Lebih khusus lagi, soal Ekoliguistik. “Jarang-jarang akademisi yang punya kemampuan menulis,” kata peneliti Genolinguistik (melihat persebaran bahasa dari gen manusia) ini beberapa waktu lalu di Rawamangun, Jakarta Timur. Senada dengan Prof. Dr. Mahsun, apresiasi serupa diberikan pula Dr. F.X. Rahyono, M.Hum, Ketua Departemen Linguistik Universitas Indonesia (UI). “Masih terbatas sekali yang mengkaji bidang ini (Ekolinguistik) di Indonesia,” katanya. Disamping itu, Abdul Rachman Patji, peneliti Kemasyarakatan dan Kebudayaan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengucapkan terima kasih setelah menerima buku Ekolinguistik dari dosen STKIP Muhammadiyah Aceh Tengah tersebut. Buku Pertama di Indonesia Secara terpisah, Irham Hanif, Anggota Tim ISBN/Katalog Dalam Terbitan Perpustakaan Nasional RI, mengungkapkan bahwa buku yang mengkaji tautan ekologi dengan linguistik ini merupakan yang pertama di Indonesia. “Sebelumnya, ada soal Psikolinguistik dan cabang linguistik yang lain,” ujarnya. Ditanya soal motivasi penulisan buku tersebut, Yusradi, menuturkan, ingin berkontribusi langsung terhadap pengembangan kajian ini. Khususnya, di Indonesia. Apalagi, literatur-literatur tentang Ekolinguistik masih sangat terbatas. “Buku ini bermula dari tulisan di blog “Mengenal Ekolinguistik” dengan referensi yang lengkap. Ternyata, tulisan ini banyak yang baca. Kemudian, ada pula yang mengutipnya di jurnal dan tugas akhir mahasiswa. Sayangnya, ada yang tidak menyebutkan sumbernya,” akunya agak kecewa. (LG006) Sumber http://www.lintasgayo.com/26970/kepala-pusat-bahasa-apresiasi-kehadiran-buku-ekolinguistik.html (5 Agustus 2012)

Selasa, 31 Juli 2012

"Ekolinguistik" Buku Tentang Lingkungan dan Bahasa

"Ekolinguistik" Buku Tentang Lingkungan dan Bahasa Mon, 07/30/2012 - 05:44 | admin Jakarta, Sumbawanews.com.- Lingkungan kerap kali menjadi isu hangat dan menarik dibicarakan, termasuk perubahan cuaca ekstrim yang terjadi belakangan ini. Buku "Ekolonguistik" karangan Yusradi Usman al-Gayoni, SS, M.Hum; mengupas tentang perubahan iklim dengan ancaman kelangsungan budaya dan peradaban manusia dan alamnya. Media ini merupakan media pertama yang mendapatkan buku tersebut dari penulisnya pada Kamis, 26 Juli 2012 di Komplek Parlemen Senayan Jakarta. Menurut Yusradi menuturkan kepada Sumbawanews.com bahwa buku karangannya merupakan buku pertama di Indonesia mengupas tentang lingkungan dan bahasa (ekolonguistik). Ketua Program Doktor Linguistik Universitas Sumatera Utara (USU) Prof. Tengku Silvana Sinar, Ph.D dalam sambutannya di buku Ekolonguistik mengatakan adanya implikasi perubahan ekologi lingkungan manusia karena adanya pergeseran dan disharmoni sosial pada bahasa dan budaya dalam hal ini merosotnya fungsi bahasa-bahasa lokal. Banyak bahasa Daerah di Indonesia semakin sulit hidup dan bertahan. "Kita kehilangan istilah bahasa yang ada dalam laut, air iklim akibatnya kepunahan tengah melanda bahasa-bahasa etnis kita" katanya. Menurut Yusradi dalam bukunya, secara tradisional, ekolonguistik dapat dibagi menjadi dua bagian utama yaitu analis wacana eko-kritis dan ekologi linguistik. Wacana eko-kritis tidak terbatas pada pengaplikasian analisis wacana kritis terhadap teks yang berkenaan dengan lingkungan dan pihak-pihak yang terlibat dalam lingkungan dalam pengungkapan ideologi-ideologi yang mendasari teks tersebut, tetapi kajian yang dilakukannya menyertakan penganalisaan berbagai macam wacana yang berdampak besar terhadap ekosistim mendatang. Misalnya kata Yusradi, wacana ekonomi neo-libaral, ketak-terhubungan dari konstruksi konsumerisme, gender politik pertanian dan alam. Adanya perubahan sosio-ekologis Takengan Kab. Aceh Tengah yang berlangsung diseputar masyarakat di Takengan Kab. Aceh Tengah juga tidak luput dari kajiannya. Dalam hal ini ia mengambil sample dengan kebijakan penggabungan kampung, migran penduduk dari pelbagai kampung seputar danau di Aceh. Sebelumnya, penamaan 128 kampung namun generasi muda Gayo saat ini tidak mengenal nama kampung-kampung tersebut diakibatkan adanya perubahan sosio-ekologis. Demikian juga dalam bidang bahasa yang sangat mempengaruhi pola fikir, sikap, dan pola tindak manusia. Hal tersebut dapat berimplikasi positif terhadap lingkungan fisik, ekonomis dan sosial yaitu dengan terpelihara, adanya keseimbangan dan terwarisnya lingkungan yang ada terhadap generasi berikutnya. Memperkaya bahasa Indonesia menjadi tuntutan mutlak dalam berbangsa dan bernegara. Namun penulis sangat jeli melihat penggunaan bahasa Indonesia yang diharapkan bisa mendunia. Sebagai bagian dari bangsa Indonesia, Yusradi mengkritisi penggunaan bahasa asing sebagai pengganti bahasa Indonesai. Ada baiknya jika istilah asing tidak terdapat dalam bahasa Indonesia maka perlu diganti dengan istilah dalam bahasa daerah gugatnya. Ia memberi contoh penggunaan istilah "tsunami" untuk membahasakan sebuah rangkaian gelombang tinggi yang menjangkau daratan seperti yang terjadi di Aceh tahun 2004 yang lalu. Masyarakat Simeulue; Aceh katanya, mengenal Tsunami dengan istilah "smong". "Jika dalam bahasa Indonesia istilah pengganti kata Tsunami tidak ditemukan maka sudah sepantasnya digunakan istilah "smong" karena saat bersamaan kearifan lokal masyarakat Simeulue turut dihargai," harapnya. (Zainuddin) sumber: http://www.sumbawanews.com/berita/ekolinguistik-buku-tentang-lingkungan-dan-bahasa (31 Juli 2012)

Sabtu, 28 Juli 2012

Tradisi Mendongeng pada Masyarakat Gayo?

Oleh: Yusradi Usman al-Gayoni* Laura Numeroff, pengarang dan ilustrator cerita anak terlaris versi New York Times, mengatakan, membacakan dongeng untuk anak selama 20 menit dapat meningkatkan kecerdasan anak dalam membaca dan menulis. Bahkan, 20 menit mendongeng setara dengan sekurang-kurangnya belajar 10 hari di sekolah. Dalam masyarakat Gayo (etnik di Aceh), istilah dongeng disebut kekeberen. Kekeberen, satu dari sepuluh sastra lisan yang ada di sana, berakar dari kata keber yang berarti kabar, berita atau kisah. Tradisi ini dilakoni orang tua atau kakek-nenek kepada anak-anak dan cucu-cucunya sebelum tidur dan dilakukan pada malam hari. Dengan demikian, kekeberen dengan pelbagai bentuk, muatan, dan simbolnya merupakan penggambaran, pengabaran, dan pengisahan cerita tertentu baik yang terjadi pada masa lalu maupun yang terjadi sekarang. Misalnya, cerita tentang sejarah Gayo, kearifan lokal dan bertalian dengan kehidupan sosial masyarakat Gayo. Selain itu, sejak masuknya Islam ke daerah ini—Gayo dan Aceh, ceritanya pun banyak mengangkat prihal Islam: sejarah Islam, nabi-nabi, sahabat, dan lain-lain. Namun, ceritanya tetap mengandung pengajaran moral (moral teaching), pembangunan karakter, bagian dari pendidikan anak usia dini (PAUD), dan pendidikan informal tempo dulu. Sebagai akibatnya, anak-anak diharapkan dapat mengambil hikmah dan pelajaran penting dari kekeberen tersebut. Dalam arti, dapat membedakan salah-benar dan baik-buruk serta tahu nilai-nilai relijius dan sosio-kultural masyarakat setempat. Alhasil, mereka dapat menyikapi hidup dengan benar, baik, bijak, dan terarah. Lebih khusus, seperti kata Laura Numeroff, kekeberen dapat meningkatkan kecerdasan anak dalam menulis dan membaca. Kondisi Kekeberen Kekeberen sudah mulai berkurang dalam masyarakat Gayo. Bahkan, dapat dikatakan ‘sudah punah.’ Kalau pun ada, pelaku dan pendengarnya sudah sangat terbatas. Adanya di kampung-kampung (desa) yang tidak tersentuh budaya luar (terisolasi). Itu juga langka. Karena, tanoh Gayo merupakan daerah yang multietnik, budaya, dan multibahasa. Hampir semua sisi demografis di tanoh Gayo menunjukkan kemajemukan. Dari garis waktu, tradisi ini kemungkinan bertahan sampai tahun 1990-an. Saat ini, kekeberen sudah digantikan televisi—filem, video, game, atau komputer—dan internet—game online, facebook, twitter, dan lain-lain. Baik orang tua maupun anak-anak lebih memilih nonton televisi. Padahal, kalau tidak diawasi dan dibatasi, televisi akan berdampak negatif bagi tumbuh-kembang anak-anak. Selain itu, anak-anak disibukkan dengan pengerjaan tugas-tugas sekolah. Akibatnya, tak ada lagi kesempatan mendengarkan kekeberen. Di waktu yang tersisa, mereka langsung istirahat dan tidur Terputusnya Transmisi Budaya Disamping pengaruh media-teknologi-informasi—eksternal, khususnya televisi dan internet, perkawinan silang serta percampuran budaya, ‘punahnya’ kekeberen disebabkan karena makin berkurangnya pelakunya—internal. Pada umumnya, mereka sudah berusia lanjut. Jumlahnya pun sangat terbatas. Kemampuan orang tua yang sekarang juga kurang dalam ber-kekeberen. Selain itu, ceritanya tidak lagi mengangkat nilai-nilai relijius, moral, etika, sejarah Gayo, dan kearifan lokal. Namun, lebih diangkat dari televisi “tayangan sinetron dan gosip” yang nilai-nilai edukasinya cenderung kurang. Penyebab utama dari ketidak-berlangsungan kekeberen adalah akibat tidak berjalannya transmisi budaya dari generasi tua ke generasi yang muda. Sebagai akibatnya, generasi muda khususnya yang lahir tahun 1980-an sampai sekarang tidak tahu menahu prihal sejarah, sastra lisan—kekeberen salah satunya, adat istiadat, norma, dan kebudayaan setempat. Lebih dari itu, meski tidak semuanya, tapi anak-anak (generasi) sekarang kurang mempelajari warisan budaya Gayo. Sebab, tidak adanya motivasi, arahan, dan tidak terbentuknya lingkungan ke arah dimaksud. Salah satu asumsi yang salah dari orang tua selama ini adalah anak-anak akan mendapatkan pengalaman langsung dari interaksi budaya sehari-hari dari lingkungan sekitarnya. Selain itu, pengajaran budaya tidak perlu diajarkan secara formal dan secara informal. Di luar itu, masih kuatnya ‘dominasi’ tokoh tua (senioritas budaya) dimana yang muda kurang diikutsertakan. Konsekuensinya, putusnya transmisi budaya tidak bisa dielakkan. Pengetahuan dan pengalaman kebudayaan pun makin berjarak, sehingga generasi muda Gayo sekarang makin kabur dan gelap melihat realitas sejarah dan budayanya, khususnya kekeberen. Disamping itu, pendokumentasian Gayo, termasuk kekeberen juga masih kurang “miskin dokumentasi.” Selama ini, transmisi budaya hanya dilakukan secara lisan dengan frekuensi yang terbatas. Kelemahan metode ini, kurang bertahan lama. Saat pelakunya uzur, maka pengetahuan budaya Gayo ikut hilang. Apalagi, saat pelakunya meninggal, pengetahuan dan pengalaman budaya tadi ikut terkubur bersamaan dengan pelakunya. Kemudian, tradisi dan yang mau menulis terutama dari ‘generasi (orang) tua’ relatif masih kurang. Hal itu makin menambah rumitnya persoalan ini. Belakangan—akhir tahun 1970-an dan tahun 1980-an—sudah dilakukan pendokumentasian sastra lisan Gayo, termasuk kekeberen. Pun jumlahnya masih terbatas. Namun, dokumentasinya ‘tidak ada’ di Takengon dan di daerah Gayo lainnya (Aceh Tenggara, Gayo Lues, Bener Meriah, Lokop/Serbejadi-Aceh Timur, Kalul-Aceh Tamiang, dan Lhok Gayo-Aceh Barat Daya). Kebalikannya, dokumentasi tadi “kekeberen” ada di luar Aceh, terutama di Medan, Jakarta (pulau Jawa), dan di luar negeri (Leiden dan Munich). Sayangnya lagi, Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah “Pemerintah Gayo” kurang menggali, mendokumentasi, memelihara, dan melestarikan sejarah yang dimiliki suku ini. Singkatnya, dari sisi internal, kekeberen ‘tidak lagi’ diajarkan, dipelajari, dan dipraktikkan. Padahal, kekeberen dan sastra lisan Gayo lainnya berpotensi jadi sarana pembelajaran dan pemertahanan bahasa Gayo. Demikian halnya umumnya dengan kebudayaan Gayo. Kekeberen membuka ruang hidup, berkembang, dan dipakainya bahasa Gayo yang diprediksikan akan punah. Karena, bahasa perlu lingkungan untuk hidup. Juga, lingkungan yang senantiasa hijau, asri, dan terjaga. Dengan demikian, lingkungan ikut merumahi bahasa. Peran itulah yang dilakukan kekeberen. Kekeberen mengemban misi kebudayaan, yaitu mengenalkan dan mempertahankan budaya Gayo dengan segala muatan didalamnya, seperti nilai-nilai filsafat, sosio-kultural, relijius, ekologi, ekologi bahasa, dan lain-lain. Melihat kayanya nilai yang dikandungi kekeberen, sudah semestinya dilakukan upaya penyelamatan dari semua pihak, khususnya yang ada di tanoh Gayo, yaitu dengan menggali dan mengumpulkan kembali, mengajarkan serta melestarikannya. Juga, dikemas dalam bentuk yang lebih modern, dalam bentuk cerita dan komik bergambar, audio, visual, dan digital. Kalau tidak, kekeberen yang merupakan cerita sebelum tidur “dongeng” akan berakhir pula dengan cerita (kekeberen) saat ini dan pada masa-masa mendatang. *Founder/Ketua Research Center for Gayo Sumber: KORAN BUDAYA SEULAWAH Edisi 02 Minggu 11 Juli 2012 Halaman 21

Senin, 04 Juni 2012

Telah terbit buku 'Ekolinguistik'

Ekolinguistik Penulis: Yusradi Usman Al-Gayoni Pengantar: Prof. Dr. Aron Meko Mbete (Guru Besar Linguistik Universitas Udayana) Sambutan: Prof. Tengku Silvana Sinar, Ph.D (Ketua Program Studi Linguistik Universitas Sumatera Utara) Editor: Rina Wahyuni Layout: Rahmadaini Usman Design Cover: Tatema Marunduri Foto Cover: Khalisuddin (Gayo Photography Community) ISBN : 978-602-18086-3-4 Ukuran : xi + 65 hlm; 11 x 21 cm Harga : Rp. 25.000+ongkos kirim dari Tangerang Penerbit : Pang Linge bekerjasama dengan Research Center for Gayo Buku yang merupakan kumpulan pelbagai tulisan dan publikasi Yusradi al-Gayoni ini mengkaji tentang kedudukan, peran, fungsi, serta pengaruh timbal-balik antara ekologi dan linguistik (ilmu bahasa). Karenanya, kajian ini dinamakan ekolinguistik (ecolinguistics). Dalam rujukan lain, dikenal dengan ekologi linguistik (linguistic ecology), linguistik ekologi (ecological linguistics), dan ekologi bahasa/bahasa ekologi (the ecology of language/language ecology). Pun sudah berusia 40 tahun, Ekolinguistik berbilang baru di Indonesia. Secara formal, baru dipelajari sejak tahun 2007. Khususnya, pada program studi S-2 dan S-3 Linguistik. Selain itu, rujukan-rujukan terkait masih sangat terbatas. Oleh sebab itu, buku ini mencoba memberikan pemahaman awal dan menawarkan topik-topik penelitian prihal kajian ini. Di salah satu bagian tulisan "Mengenal Ekolinguistik" ini, misalnya, terkuak adanya hubungan yang nyata terkait pelbagai perubahan ekologi terhadap bahasa. Perubahan-perubahan ekologi tersebut turut memengaruhi nilai, ideologi, dan budaya sebagai bagian dari identitas keetnikan sebuah masyarakat (suku/bangsa). Sebaliknya, bahasa sangat memengaruhi pola pikir, sikap, dan pola tindak manusia. Hal tersebut dapat berimplikasi positif terhadap lingkungan fisik, ekonomis, dan sosial yaitu dengan terpelihara, adanya keseimbangan dan terwarisnya lingkungan yang ada kepada generasi berikutnya. Kebalikannya, dapat pula berdampak negatif dengan terjadinya pelbagai perubahan, ketidakseimbangan, dan kerusakan ekosistem. Dengan demikian, bahasa dapat mengarahkan penggunanya baik untuk hal-hal yang bersifat konstruktif maupun yang bersifat destruktif terkait lingkungan. Kehadiran buku ini diharapkan bisa bermanfaat, khususnya bagi para pemerhati/pengkaji bahasa, linguis (linguist), ekolinguis (ecolinguist), jurnalis, pakar;pemerhati;aktivis lingkungan, akademisi lintas disiplin ilmu: linguistik, ekologi, ilmu komunikasi, biologi, antropologi, sosiologi, arkeologi, etnobotani, dan lain-lain, serta pelbagai elemen sipil lainnya di Indonesia Pemesanan: Mahara Publishing http://www.facebook.com/groups/244442078996636/

Jumat, 13 April 2012

Buku Biografi A.R.Moese Sudah Terbit

Takengon | Lintas Gayo - Setelah empat tahun (2008), akhirnya biografi musisi Aceh asal Takengon, tanoh Gayo, A.R.Moese, diterbitkan juga. Kepastian ini langsung diperoleh dari keluarga. “Karena keterbatasan dana yang dimiliki keluarga, sementara, kita cetak 1000 eksemplar. Nanti, kita lihat, apakah memungkinkan cetak kedua. Atau, direvisi setelah adanya masukan dari pembaca, tambahan, dan pendalaman data dari penulis,” kata Pia Ardiagarini, anak sulung Moese, di Belang Mersa, Takengon, Kamis (12/4/2012) didampingi anggota keluarga lainnya. Lebih lanjut, ujar Pia menjelaskan, buku yang ditulis Yusradi Usman al-Gayoni ini diterbitkan Pang Lingè dan Research Center for Gayo (RCfG) dengan ISBN 978-602-18086-1-0. Ditanya soal harga, Pia mengungkapkan, buku ini dijual Rp. 50.000,- /buku. “Barangkali, ada yang mau memiliki buku ini, bisa langsung dipesan ke Zola Music Course di Belang Mersa Takengon (rumah alm). Juga, bisa melalui Forum Lintas Gayo (For LG)-lintasgayo@yahoo.com, dan Research Center for Gayo (RCfG) – researchcenterforgayo@yahoo.co.id. Tapi, sementara waktu, kita listing dulu. Soalnya, bukunya masih belum dikirim dari Jakarta,” ungkapnya. Di tempat yang sama, Ani Fatma, istri almarhum, mengungkapkan apresiasi dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada penulis biografi suaminya, Yusradi. “Kalau tidak ditulisnya, sudah hilanglah sejarah Bapakmu. Lebih-lebih, baru bisa terbit sampai empat tahun,” kata Alumni IKIP Medan (UNIMED) ini. “Oya Tuhen mi we mu beles se, Win,” sambungnya dalam bahasa Gayo (Apa yang dia lakukan, Tuhan lagi yang membalasnya, Win). Launching Sementara itu, Muhammad Dirgantara, putra kedua alm, menyebutkan, kemungkinan acara peluncuran sekaligus bedah buku tersebut akan digelar bulan ini juga. “InsyaAllah, coba kita usahakan tanggal 29 ni. Tanggal ini cukup istimewa. Sebab, Bapak lahir tanggal 29 April,” sebutnya. Namun, tergantung situasi juga, sambung putra ketiganya, Muhammad Dirgantara. “Apalagi, situasi Takengon lagi “memanas,”” katanya. Secara teknis, lanjutnya, kita (Zola Music Course) akan berkerjasama dengan Media Online Lintas Gayo terkait peluncuran dan bedah buku ini. (Kha A Zaghlul/red.03)

10 Gempa Terbesar di Dunia Sejak 1900

Setelah gempa 8,7 Skala Richter yang mengguncang Aceh, Sumatera Utara, dan Padang, 12 April 2012 lalu, berikut adalah 10 gempa terkuat yang pernah terekam sejak 1900 sampai sekarang. 22 Mei 1960 - Chile, gempa berskala 9,5 Skala Richter mengguncang Santiago dan Concepcion, menyebabkan gelombang laut dan ledakan gunung api. Sekitar 5000 orang terbunuh dan 2 juta orang kehilangan rumah. 28 Maret 1964 - Alaska, gempa dan tsunami yang terjadi sesudahnya membunuh 125 orang dan menyebabkan kerugian $310 juta. Gempa skala 9,2 SR ini menyerang Alaska dan bagian barat Yukon Territory serta British Columbia di Kanada. 26 December 2004 - Indonesia, gempa 9,1 SR menyerang pesisir Provinsi Aceh di Indonesia, menyebabkan tsunami yang membunuh 226 ribu orang di Indonesia, Sri Lanka, Thailand, India, dan sembilan negara lainnya. 4 November 1952 - Rusia, gempa 9 SR menyebabkan tsunami yang mencapai Kepulauan Hawaii. Tidak ada korban jiwa dalam gempa ini. 11 Maret 2011 - Jepang, gempa 9 SR menyerang Jepang, menyebabkan banyak korban. US Geological Survey memverifikasi gempa terletak di kedalaman 24,3 km dan pusatnya di 130,3 km timur Sendai, di pulau Honshu. Gempa ini adalah yang terkuat yang pernah tercatat di Jepang. Tsunami yang terjadi setelah itu memicu krisis nuklir paling parah dalam 25 tahun terakhir. Lebih dari 15 ribu orang tewas akibat kombinasi gempa dan tsunami. Filipina, Taiwan, dan Indonesia mengeluarkan peringatan tsunami. Peringatan tsunami dari Pacific Tsunami Warning Center mencapai Kolombia dan Peru. 27 Februari 2010 - Chile, gempa 8,8 SR dan tsunami menyebabkan tewasnya 500 orang dan kerusakan $30 miliar, merusak ratusan ribu rumah dan menghancurkan jalan-jalan tol serta jembatan. 31 Januari 1906 - Ekuador, gempa 8,8 SR menyerang pesisir Ekuador dan Kolombia, menyebabkan tsunami yang menewaskan 1000 orang. Getarannya terasa di sepanjang pesisir Amerika Tengah dan bahkan sampai San Francisco dan barat Jepang. 11 April 2012 - Gempa 8,7 SR menyerang Aceh, 495,6 km dari barat daya Banda Aceh. Getarannya terasa sejauh Singapura, Thailand, dan India. 4 Februari 1965 - Alaska, gempa 8,7 SR menghasilkan tsunami yang mencapai 10,7 meter tingginya di Pulau Shemya. 28 Maret 2005 - Gempa 8,6 SR di Nias, Sumatra membunuh 1300 orang. Sumber: Reuters/Situs U.S. Geological Survey Earthquake - http://earthquake.usgs.gov/

Senin, 02 April 2012

Akademisi dari Takengon Tulis Buku Ekolinguistik Pertama di Indonesia

Takengon | Lintas Gayo - Buku Ekolinguistik atau Ekologi Bahasa akan segera terbit. Ekolinguistik merupakan kajian yang melihat hubungan timbal balik antara Ekologi dan Linguistik. Keterangan ini langsung diperoleh dari penulisnya, Yusradi Usman al-Gayoni, melalui sambungan telepon, Senin (2/4/2012). “Sepengetahuan saya, ini buku pertama Ekolinguistik di Indonesia,” ungkapnya. Pun sudah ada sejak 40 tahun lalu, jelas Dosen STKIP Muhammadiyah Aceh Tengah itu, kajian ini baru ada (secara formal) tahun 2007 di Universitas Udayana Bali. Selanjutnya, 2009 di Universitas Sumatera Utara (USU) Medan. Namun, kajian, penelian, dan publikasi terkait Ekolinguistik masih sangat terbatas. Beliau mencontohkan, sampai 2010, sajian informasi Ekolinguistik masih sedikit sekali. Termasuk, dalam penelurusan di internet “google,” baru ada 3 halaman. “Mengingat pentingnya kajian ini terhadap lingkungan dan bahasa (lebih luas: nilai, budaya, dan peradaban manusia), masih terbatasnya dan besarnya kebutuhan informasi terkait, makanya saya buat buku ini,” katanya. Namun, dia mengakui, apa yang ada dalam buku itu masih sebatas informasi awal. Dengan demikian, perlu didalami dalam bentuk pelbagai kajian dan penelitian lanjutan oleh akademisi lainnya. Lebih lanjut, dia menyampaikan penghargaan dan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada sang guru, Prof. Aron Meko Mbete yang telah “mengenalkan” kajian ini padanya (Khalisuddin). Sumber: Media Online Lintas Gayo (2/4/2012)

The First Ecolinguistics's Book in Indonesia