Rabu, 30 September 2009

Perjalanan Panjang SMA Negeri 1 Takengon

Oleh: Yusradi Usman al-Gayoni*

Bicara prihal pendidikan dataran tinggi Gayo, banyak hal yang masih belum terdokumentasi. Rekaman sejarah pendidikan masa lalu daerah ini hilang seiring kepergian pelakunya. Secara umum, tanoh Gayo memang masih kurang dokumentasi tertulis. Sebagai akibatnya, transmisi sejarah, dan budaya secara umum tidak berjalan dengan baik. Salah satu bagian sejarah pendidikan tanoh Gayo ini adalah SMA Negeri 1 Takengon (sebelumnya SMA Negeri 1 Bebesen). Sekolah ini merupakan SMA tertua di dataran tinggi tanoh Gayo. Bahkan, sekolah ini merupakan salah satu SMA tua di Propinsi Aceh

Sebelum sekolah ini berdiri, orang Gayo harus menyekolahkan anaknya ke luar daerah, terutama di Banda Aceh. Dikarenakan, untuk SMA di Aceh, baru ada di Banda Aceh. Padahal, untuk menikmati pendidikan, bukanlah hal yang mudah bagi masyarakat yang mendiami daerah ini. Saat itu, pendidikan harus dibayar mahal dengan kucuran keringat, tetesan air mata dan untaian doa dari para orang tua. Belum lagi, kondisi ekonomi yang sangat sulit ketika itu, terlebih-lebih dengan situasi keamanan Aceh yang tidak menentu.

Namun, kekurangan tersebut tidak menghalangi niat orang tua yang ada di daerah ini untuk menyekolahkan anak-anak-nya. Pada saat itu, orang tua akan malu (kemel) bila anak-anak mereka tidak sekolah. Anak-anak mereka dihantarkan dengan tangisan, dan doa penuh harap saat melepas kepergiaan anak-anaknya. Pendidikan menjadi kebutuhan, dan semacam kompetisi wajib antarorang tua pada waktu itu (besikemelen). Di Takengon sendiri, Sekolah Dasar baru ada tahun 1940-an, Sekolah Menengah Pertama (1946), Sekolah Guru Bawah/SGB (1956), dan Sekolah Guru Atas/SGA (1957). Sementara itu, Perguruan Tinggi Gajah Putih baru berdiri tahun 1986.

Beberapa putra Gayo berhasil melanjutkan SMA-nya ke luar daerah. Setelah menyelesaikan SMA-nya, lalu, mereka melanjutkan kuliah di pulau Jawa. Pada saat kuliah, terdapat program Pengerahan Tenaga Mahasiswa (PTM), yang bertujuan untuk mengisi kekosongan guru-guru yang ada di daerah, termasuk di Takengon. Sebagai apresiasi dari pemerintah, mereka langsung diangkat sebagai pegawai D2/III. Beberapa mahasiswa dari Takengon yang kuliah di Yogyakarta, dan Bandung yang turut serta dalam program tersebut, antara lain Abdullah Armi, Alim Amin, Mahmut Tamat, Muhammad Daud, M. Yasin Bale, dan lain-lain. Kemudian, mereka kembali ke Takengon, untuk mengisi kekosongan guru, dan mengajar di SGB dan SGA Takengon.

Setelah kegiatan belajar mengajar di SGB, dan SGA berjalan, muncul-lah ide untuk mendirikan SMA di Takengon. Dikarenakan, ketika itu, SMA masih belum ada di Takengon. Seperti digambarkan sebelumnya, dengan segala keterbatasan, anak-anak Takengon, harus melanjutkan SMA-nya ke luar daerah. Melihat kondisi tersebut, suara hati, panggilan jiwa dan tekad dari Abdullah Armi, Alim Amin, Mahmut Tamat, Muhammad Daud, dan M. Yasin Bale tidak bisa terbendung. Pada akhirnya, mereka mendeklarasikan pendirian SMA Aceh Tengah, tepatnya di kediaman M. Yasin Bale, di kampung Bale, pada tangal 5 Agustus 1957.

Upaya sosialisasi pun kemudian dilakukan ke tengah-tengah masyarakat oleh kelima pendiri sekolah ini. Masyarakat Aceh Tengah cukup menyambut baik kehadiran sekolah ini. Cukup disayangkan, sebagian besar lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Takengon telah lebih dahulu melanjutkan SMA-nya ke luar daerah, terutama ke Banda Aceh. Alhasil, hanya tiga belas orang yang mendaftar dan tercatat sebagai angkatan pertama sekolah ini, yaitu Rabumah (Istri Bupati Buchari Isaq), Hamidah (Gunung, Teritit), Salamah (Gunung, Teritit), Maimunah (Anak Khalidin Hakim), Salim (Bintang), Abdul Rauf Abdullah (Bale), Ishaq (Genuren, Bintang), Syafaruddin (Genuren, Bintang), A.R. Hakim Aman Pinan, Aman Duwan, dan Ismail (Bom), Usuluddin (Linge), serta M.S. Mora (Adik Yacob Umar).

Kegiatan belajar mengajar pun mulai berjalan di gedung SGB, dan SGA sampai tahun 1960 (di SLTP Negeri 3 Takengon sekarang). Saat itu, dalam proses belajar mengajar hanya dipakai satu ruangan, dan dilangsungkan sore hari sore hari. Dikarenakan, pada pagi harinya, gedung tadi dipakai SGB dan SGA. Pada tahun yang sama, Sekolah Menengah Atas (SMA) Aceh Tengah ini diresmikan. Sekolah ini lalu dipindahkan ke Sekolah Rakyat Percobaan Indonesia Tionghoa, yang terletak di jalan Pahlawan (lokasi SMA yang sekarang). Sekolah Tionghoa ini memiliki luas 3.183, 97 M2. Pada tanggal 5 Oktober 1959, SMA ini dinegerikan, maka nama sekolah berubah dari SMA Swatentera Laut Tawar menjadi SMA Negeri ABC. Pada tahun 1967, saat M. Johan Alamsyah, nama sekolah ini berubah lagi menjadi SMA Aceh Tengah. Pada masa kepempimpinan Oesman Manaf, tepatnya tahun 1977, berubah lagi menjadi SMA Negeri 1 Takengon.

Pada saat kepemimpinan Drs. M. Amin Tujuh, salah satu kebijakannya adalah, berusaha mengubah bangunan yang berkonstruksi papan menjadi bangunan beton. Namun, rencana tersebut baru terealisasi tahun 1992, pada saat kepemimpinan Drs. Abdullah Seltan. Pada tahun 1997, saat Drs. Beramat Mudereje memimpin sekolah ini, lahir pula kebijakan terkait nomenkelatur sekolah yang disesuaikan dengan letak kecamatan. Dikarenakan sekolah ini terletak di kecamatan Bebesen, secara otomatis sekolah ini berubah menjadi SMU Negeri 1 Bebesen. Pada saat Beramad mengepalai sekolah ini, beliau berhasil membangun ruang kepala sekolah (ruangan sekarang), serta perpustakaan (yang sekarang).

Pada saat Misbahuddin, S.Pd., M.M. memimpin sekolah ini, terjadi pembongkaran kelas IA, IB, IC & ID. Selanjutnya, dibangun gedung permanen berlantai dua dengan jumlah delapan ruangan. Konsekuensinya, laboratorium sekolah harus dibongkar karena perluasan dan pembangunan gedung dimaksud. Selain itu, terdapat ruang multimedia (di bekas perpustakaan). Dari sisi kualitas, pada tahun 2006, sekolah pertama dan tertua ini di tanoh Gayo ini, berhasil masuk sepuluh besar se-Aceh. Masih pada masa kepemimpinan Misbahuddin, tahun 2007, terjadi lagi perubahan nama sekolah ini dari SMA Negeri 1 Bebesen, menjadi SMA Negeri 1 Takengon. Hal ini merupakan beberapa tujuan dan target dari Reuni Akbar dan Ulang Tahun Emas SMA Negeri 1 Takengon (1957-2007), selain memperingati ulang tahun, reuni, mengupayakan dan menghimpun dana untuk perluasan sekolah (di depan Puskesmas), membentuk Ikatan Alumni SMA Negeri 1 Takengon, dan mendokumentasikan sejarah sekolah ini. Namun, ikatan sekolah ini masih belum terbentuk, begitu juga dengan pendokumentasian sejarah sekolah ini, masih belum selesai dibukukan.

Sampai saat ini, sekolah ini, telah dipimpin dua belas kepala sekolah, yaitu Abdullah Abdoerahim (1957-1959), M. Affan Hasan (1959-1960), M. Johan Alamasyah (1960-1970), Oesman Manaf (1970-1978), Ismail Genaf (1978-1983), Abdullah Hakim (1983-1988), Drs. M. Amin Tujuh (1988-1992), Drs. Abdullah Seltan (1992-1996), Drs. Beramad Mudereje (1996-2000), Drs. Jemaris (2000-2002), Drs. Beramad Mudereje (2002-2003), Misbahuddin, S.Pd., M.M. (2003-2009), dan Suryani, S.Pd (Februari 2009-sekarang). Sekolah ini juga menjadi induk beberapa sekolah di Takengon, Aceh Tengah, antara lain: SMA Negeri 1 Pegasing (sekarang SMA Negeri 2 Takengon), SMA Muhammadiyah, SMA Darma Lestari, SMA Silih Nara, SMA Negeri 2 Bebesen (sekarang SMA Negeri 8), dan SMA Negeri Lut Tawar (sekarang SMA Negeri 12 Takengon), dan telah menghasilkan sekitar 10.000 alumni yang bekerja di pemerintahan, dan non-pemerintahan baik di dalam, maupun di luar negeri.


*Angkatan ke-42 SMA Negeri 1 Takengon, Ketua Umum OSIS SMA Negeri 1 Bebesen (2001-2002), dan Ketua Ulang Tahun Emas&Reuni Akbar SMA Negeri 1 Bebesen (SMA Negeri 1 Takengon) tahun 2007. Tulisan ini merupakan bagian (inti) dari buku yang masih belum dirampungkan “50 Tahun SMA Negeri 1 Takengon (1957-2007)”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar