Senin, 01 Juni 2009

Penulisan Kata Blang?

Oleh: Yusradi Usman Al-Gayoni*


Bahasa adalah identitas sebuah bangsa. Dengan mudah, kita akan mengetahui orang Indonesia dari bahasa yang digunakan masyarakat-nya. Begitu juga halnya dengan urang, suku Gayo; melalui bunyi, bentukan kata, frasa, kalimat dan aspek lain dari bahasa ini, kita dapat mengetahui bahwa yang bersangkutan adalah orang Gayo. Namun, penulis menemukan beberapa kejanggalan prihal penulisan kota kata bahasa Gayo terutama kata Blang Kejeren saat membaca majalah bulanan Lentayon Edisi I, Suara Seribu Bukit. Thn III – 2009. Boleh dikatakan, Ini pertama kali penulis membaca majalah Lentayon. Barangkali, bagi sebagian pihak, hal ini adalah hal yang biasa dan sepele. Namun, bagaimana pun, dalam jangka panjang, hal tadi akan mengakibatkan luntur dan hilangnya identitas sosial orang Gayo. Dikarenakan, orang Gayo memiki bahasa, adat istiadat dan budaya sendiri yang membedakannya dengan suku lainnya yang ada di nusantara ini.
Dalam konteks morfologi, penulisan kata pada bahasa Gayo, jarang ditemukan pola KK (konsonan-konsonan). Untuk kasus bahasa daerah di Aceh, pola seperti itu dapat kita temukan salah satunya dalam bahasa Aceh. Sebaliknya, dalam bahasa Gayo lebih berpola KV (konsonan vokal) atau VK (vokal konsonan) seperti dalam kata gule, kupi, ume, uwe, dan lain-lain. Dengan demikian, kata blang harusnya ditulis dengan belang. Jadi, Blang Kejeren ditulis menjadi Belang Kejeren. Demikian halnya dengan nama kampung atau tempat yang sebelumnya ditulis dengan kata blang, harusnya ditulis jadi belang.
Lebih lanjut, bila kita merujuk ke Kamus Bahasa Gayo – Indonesia karya Prof. M.J. Melalatoa (Antrofolog UI), tidak ditemukan adanya kata blang tersebut dalam bahasa Gayo. Sebaliknya, yang ada kata belang yang bearti, pertama: lapangan, padang dan kedua: campuran makna (1982:28). Dari kajian fonetik atau bunyi, tekanan suara juga ada pada be bukan bl. Juga, tidak terjadi pelesatan pada kata ini “blang” tapi tetap dilafalkan belang. Jadi, dari mana asal mula kata tersebut? Dan apakah kata blang ini murni bahasa Gayo?
Beberapa penyebab kesalahan penulisan ini adalah, pertama, kurangnya kesadaran orang Gayo sendiri menyangkut identitas mereka sendiri. Ini dikarenakan tidak adanya transmisi budaya dari yang tua ke yang muda, minimnya acuan tertulis, serta pelaku budaya tua yang tinggal hitungan jari. Akibatnya, identias sosial orang Gayo begitu rapuh, tidak berciri dan melembaga dalam masyarakatnya.
Kedua, kekurang- ingin-tahuan dan ketidakpedulian dari orang Gayo sendiri baik secara personal, keluarga, kelompok dan pemerintahan lokal-nya. Dikhawatirkan mind set, sikap, prilaku dan pola tindak seperti ini akan berevolusi pada hilangnya identitas suku ini. Bukti ini dikuatkan oleh kecilnya jumlah suku ini, karakter yang melekat; dinamis dan terbuka, serta pengaruh yang datang dari luar.
Berkaitan dengan topik ini, sebagai perbandingan di Takengon misalnya, saat ini, kata Peteri Ijo, Singah Mata, Belang Mersa, masing-masing sudah ditulis dan dialihbahasakan menjadi Puteri Hijau, Singgah Mata dan Blang Mersa. Kenapa kata tersebut harus alih bahasakan? Kita punya aturan penulisan sendiri, tapi kenapa harus mengikut ke bahasa yang lain? Jangan-jangan, ke depannya, kata Takengon juga ditulis jadi Take n Gone, biar lebih bagus, prestius, high class dan mendunia (lihat www.gayolinge.com & www.yusradiusmanalgayoni.blogspots.com. Hal tersebut tak ubahnya seperti kata belang tadi dan kata-kata lainnya. Cukup disayangkan, perubahan-perubahan yang terjadi pada masyarakat ini tidak didukung dengan penguatan nilai-nilai dan kearifan lokal, pemertahanan ciri dengan konsep serta arah perubahan yang jelas. Sebaliknya, lebih pada perubahan yang ‘kebablasan,’ yang semakin jauh dari adat, norma, nilai dan adab suku ini.
Ketiga, kekurangan pada orang Gayo sendiri yaitu minimnya penulis atau tradisi menulis lebih-lebih pada masa lalu. Transmisi dan akulturasi budaya terjadi hanya sebatas tradisi lisan, salah satunya melalui kekeberen, tanpa dipertahankan melalui kegiatan dan tradisi menulis. Alhasil, bisa kita lihat, kajian-kajian atau referensi menyangkut ke-Gayo-an masa lalu dan kini cukup terbatas. Terakhir, meski mengandung nilai-nilai kebenaran dan bernilai, bermula dari kekeberen, dan terakhir apa yang dimiliki suku ini akan menjadi kekeberen, ironis sekali. Pun kalo ada bukti otentik sejarah, tak ubahnya seperti ‘suhuf-suhuf’ yang masih tersebar.
Melalui tulisan ini, diharapkan kepada reje, pemerintah kabupaten Gayo Lues dapat mempertimbangkan, mengkaji kembali penulisan kata Blang Kejeren dan kosa kata lainnya yang dari awal sudah salah. Lebih baik kita terlambat daripada tidak berbuat sama sekali. Dengan demikian, kekurangan, ketidaktahu dan ketidakmauan tahuan ‘kita’ tidak terulang lagi pada hari masa-masa mendatang.


* Majalah Lentayon Edisi VII Thn III 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar