Selasa, 07 April 2009

Menentukan Pilihan

Oleh: Yusradi Usman Al-Gayoni
(Majalah Lentayon Suara Negeri Seribu Bukit, Edisi V Thn III 2009)



Tak lama lagi, pelajar SMA di daerah ini, kabupaten Gayo Lues akan menghadapi ujian akhir nasional (UAN). Selanjutnya, diantara mereka ada yang melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi baik di Aceh maupun di luar Aceh. Yang menjadi persoalan, sudahkah mereka mengetahui jurusan dan perguruan tinggi yang akan mereka ambil? Ada dua kemungkinan jawaban dari pertanyaan ini, kemungkinan pertama sudah ada yang mengetahui, kedua sebaliknya. Persoalan ini tidak semata menyangkut perguruan tinggi dan jurusan. Lebih dari itu, perlu pertimbangan-pertimbangan lain yang selama ini luput dari perhatian terutama pelajar kita.

Selama ini, banyak pelajar yang berasal dari Nanggroe Aceh Darussalam tidak mengetahui pilihan dan perguruan tinggi yang akan mereka masuki. Fenomena ini, penulis amati sejak tahun 2002 sampai sekarang. Mereka tidak mengetahui alasan dan motivasi mengambil jurusan pilihan mereka. Kebanyakan dari mereka lebih mengambil jurusan tertentu karena faktor ikut-ikutan. Selain itu, biasanya mereka mengikuti kemauan orang tua. Misalnya, orang tua memaksaksakan anaknya harus mengambil jurusan kedokteran. Anak tadi hanya menuruti kemauan orang tua mereka. Padahal, kualitas dan kemampuan mereka sangat jauh dari harapan, tapi tetap juga dipaksanakan. Begitu juga untuk jurusan dan kasus lain yang kerap terjadi pada pelajar atau mahasiswa kita di perantauan.

Yang terjadi kemudian adalah drop out (putus kuliah) atau pindah ke jurusan lain. Untuk yang terakhir, biasanya dari S-1 ke D-3 untuk menghindari drop out tadi. Kalau hal ini yang terjadi, pelajar yang bersangkutan akan dirugikan dari sisi waktu, energi dan pemikiran. Yang paling merasakan dampak ini adalah orang tua yang pelajar tadi; kekecewaan, malu, stress, terlebih lagi finansial yang telah dikeluarkan.

Saat masih di SMA, penulis juga melihat sebuah kecenderungan, pelajar dari daerah kita lebih diarahkan ke jurusan IPA. Padahal, belum tentu bakat, minat, kemampuan, kualitas, arah dan rencana ke depan pelajar tadi sesuai dengan jurusan yang diambil. Kemungkinan, hal yang kurang bijak ini masih berlangsung sampai sekarang. Tidak sebatas di sekolah, hal ini juga terjadi di keluarga. Orang tua juga cenderung memaksanakan kehendak agar anaknya mengambil jurusan IPA. Dengan dengan, jurusan IPA lebih prestius, wah, berpeluang dan memiliki masa depan yang lebih dibanding jurusan lain. Sebaliknya, jurusan IPS atau bahasa adalah jurusan sampah, siswa yang bandel, memiliki IP jongkok dan beragama image buruk lainnya.

Yang terjadi kemudian, saat kuliah, pelajar yang sebelumnya berlatar IPA mengambil jurusan non-IPA saat kuliah. Sebetulnya hal ini tidak menjadi persoalan yang berarti. Akan tetapi, alangkah baiknya, sejak awal pelajar kita diberikan pemahaman dini dan menyeluruh mengenai jurusan yang akan mereka ambil.

Alasan utama yang mendasari permasalahan ini adalah kurangnya informasi dan pemahaman yang diterima oleh pelajar di daerah kita. Ironisnya, mereka juga tidak berinisiatif untuk mencari informasi lebih yang mereka perlukan. Ini menjadi bukti bahwa ada sebuah sistem yang kurang berjalan dengan baik di sekolah prihal penjurusan. Harusnya, masalah ini telah berlangsung sejak pelajar kita masih duduk di kelas satu SMA. Paling tidak, ada informasi awal kepada para pelajar. Berbeda dengan kondisi sebelumnya, saat ini, pelajar kita dapat dengan mudah mengatasi permasalahan ini yaitu dengan meng-akses internet. Hasilnya, tidak terjadi gap informasi seperti kejadian-kejadian sebelumnya.

Untuk itu, pelajar-pelajar yang ada di negeri seribu satu bukit ini, perlu mempertimbangkan beberapa hal sebelum menentukan pilihan nantinya. Pertama, jurusan dan perguruan tinggi yang akan dimasuki. Tentu, ini hal pertama yang harus diketahui termasuk di dalamnya peringkat jurusan dan perguruan tinggi yang bersangkutan. Dengan begitu, persiapan pun dapat dilakukan dengan matang. Kedua, mengetahui dan memahami gambaran mata kuliah dan silabus dari jurusan yang diambil. Akibatnya, kita dengan mudah mengetahui hubungan mata kuliah tadi dengan perkembangan dan perubahan yang akan terjadi. Karena banyak mata kuliah terlebih silabus tadi yang tidak ada hubungan dan manfaatnya ke peluang kerja atau dalam menyikapi perubahan yang terjadi di kemudian hari. Lebih jauh, kita dapat membandingkan hal tersebut dengan perguruan tinggi lain. Namun, kenyataaan di lapangan, banyak diantara pelajar kita yang kerap mengabaikan, bahkan tidak mengetahui masalah ini.

Ketiga, pelajar di tempat ini mesti mengetahui pula keluaran dari jurusan ini (out put). Dengan pemahaman lain, poin ini berhubungan dengan peluang, dunia kerja, persaingan, dan gambaran umum setelah mereka tamat kuliah. Ini perlu dipertimbangkan secara sungguh-sungguh oleh pelajar kita. Terlebih lagi, dengan keterbatasan mind set, peluang dan kesempatan kerja dewasa ini. Harapan penulis, pelajar dari negeri ini dapat mempertimbangkan, menentukan dan menetapkan pilihan sesuai dengan keinginan, kemampuan dan peta hidup yang telah mereka buat sehingga hal-hal yang kurang bijak di atas terjadi dan terulang kembali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar