Kamis, 02 April 2009

Menguak Tabir Gelap Negeriku

Oleh: Yusradi Usman Al-Gayoni
(www.gayolinge.com, 31 Mei 2007)


Gayo merupakan salah satu etnik grup yang mendiami kepulauan nusantara persisnya di dataran tinggi tanoh Gayo, Nanggroe Aceh Darussalam; Takengon (Aceh Tengah), Kotacane (Aceh Tenggara), Lokop (Aceh Timur), Kalul (Aceh Taming), Gayo-Alas (Aceh Tenggara) & Bener Meriah. Nilai, sikap dan tingkah laku mereka senantiasa mengendap dalam tingkah dan pola kehidupan sehari-hari. Pada akhirnya, hal tersebut menghasilkan peradaban suku ini baik fisik maupun non-fisik yang membedakannya dengan suku lainnya yang ada di Indonesia.

Suku ini (Gayo) menduduki pulau Sumatera sejak 2500 SM beserta sekelompok etnik lainnya seperti Batak, Alas & Karo sebelum etnik-etnik lainnya hadir . Kelompok ini disebut juga dengan melayu tua atau ‘proto Melayu’. Dalam sebuah cacatan, disebutkan bahwa suku Gayo ‘urang Gayo’ dan beberapa anggota melayu tua lainnya berasal dari hindia belakang. Melihat bentuk fisik dan bahasa yang dimiliki antaranggota melayu tua di atas, semakin menguatkan asal muasal bahwa mereka berasal dari hindia belakang. Bahasa Toba dan bahasa Karo dengan bahasa Gayo, misalnya, menunjukkan banyak persamaan dari aspek morfologi. Persamaan tersebut kian nyata ketika didalami dari kajian linguistik historis dan linguistik komparatif dari ketiga bahasa itu khususnya.

Dalam falsafah masyarakat dataran tinggi tanoh Gayo sendiri dikenal istilah yang terdengar dan mengendap di tengah-tengah masyarakat yaitu ‘Awal Linge Asal Serule’. Penggalan falsafah tersebut mensyaratkan perjalanan sejarah panjang mengenai keberadaan etnik ini. Lebih dari itu, falsafah ini merefleksikan sejarah Gayo, Linge, Serule (salah satu kampung tua di dataran tinggi tanoh Gayo), kedatangan dan perkembangan Islam di Aceh, dan bagaimana kerajaan Linge ini, kemudian melahirkan raja-raja di pesisir Aceh seperti Meurah Putih & Meurah Hitam, Meurah Ibrahim, Meurah Pupuk, Meurah Johan sebagai sultan pertama kerajaan Aceh Darussalam (601 – 633/1203-1235M), Meurah Silu sebagai Raja Islam yang termasyur (622-688 H/1225-1263M), dan lain-lain.
Meski sudah mendapat gambaran singkat menyangkut sejarah suku yang mendiami dataran tinggi tanah Gayo ini, namun kita perlu melihat kembali, mengkaji serta membandingkan sejarah terbentuknya negeri ini; Linge (Gayo), Kutereje dan Aceh dari lembaran sejarah yang terjadi. Pendekatan dan pengkajian yang dimaksud, sudah barang tentu tidak hanya dilihat dari satu sisi saja melainkan dari semua sisi dengan menggunakan berbagai disiplin ilmu yang ada dan pendekatan yang menyeluruh, ketika nilai, sikap dan kebiasaan itu menjadi norma dan adat dalam masyakakat. Pada akhirnya, hal tersebut terakumulasi dalam peradaban masyarakat Gayo itu sendiri; bagaimana sejarah awal orang Gayo mendiami Sumatera? Apakah mereka telah lebih dahulu Islam atau mereka menerima Islam belakangan seperti pendapat secara umum selama ini? Bagaimana sejarah Linge sendiri yang sampai melahirkan raja-raja pesisir Aceh seperti yang disebutkan di atas? Tentu pertanyaan terakhir merupakan sumbangsih terbesar etnik ini terhadap Aceh dan kepulauan ini; ketika turunan raja Linge ‘reje Linge’ berhasil menjadi sultan pertama kerajaan Aceh Darussalam serta raja-raja di pesisir Aceh. Lebih dari itu, sebagai peletak pondasi awal kesultan Aceh, sultan ini juga turut serta dalam penyeberan Islam di Aceh ketika itu.

Pekerjaan sejarah Gayo yang masih tersisa tersebut perlu kita sikapi dengan langkah praktis dengan pengkajian, penelitian dan pendokumentasian sejarah. Cukup rasanya menjadi pengalaman pahit bagi masyarakat dataran tinggi tanah Gayo saat kita kesulitan mendapatkan informasi tentang daerah ini terutama sejarah dan kultur masyarakat Gayo itu sendiri. Karenanya, menjadi keharusan bagi kita untuk mengkaji lembaran-lembaran sejarah Gayo melalui suhuf-suhuf yang masih tersebar dimana suku ini pernah hidup dan menghasilkan sebuah peradaban sehingga tabir gelap negeri ini bisa terkuak, ‘genap si mulo, ageh si belem’

Tidak ada komentar:

Posting Komentar